Menanamkan Kedisiplinan dan Jiwa Kepemimpinan: Tradisi Upacara Bendera di MI Bahrul Ulum Munung

Setiap Senin pagi, saat matahari mulai menyapa Desa Munung dengan sinar keemasannya, suasana di halaman MI Bahrul Ulum tampak berbeda. Barisan siswa dengan seragam merah-putih yang rapi, lengkap dengan atribut atribut madrasah, berjejer dengan khidmat. Di sekolah ini, upacara bendera bukan sekadar rutinitas formalitas untuk menggugurkan kewajiban kurikulum, melainkan sebuah laboratorium karakter yang dirancang secara strategis melalui sistem penggiliran tugas yang unik.

Inovasi Penggiliran Petugas: Belajar Tanggung Jawab Sejak Dini

Salah satu kekhasan yang menjadi kebanggaan MI Bahrul Ulum Munung adalah sistem penggiliran petugas upacara. Berbeda dengan sekolah lain yang mungkin hanya mengandalkan siswa pilihan atau pengurus organisasi tertentu, MI Bahrul Ulum memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa melalui rotasi per kelas.

Prosesi penggiliran ini dimulai dari kelas tertinggi, yakni kelas 6, yang berfungsi sebagai teladan atau role model. Setelah kelas 6 sukses menjalankan tugasnya, tongkat estafet diberikan kepada kelas 5, kemudian kelas 4, dan seterusnya. Sistem ini memiliki makna filosofis yang dalam:

  1. Kepemimpinan Berjenjang: Siswa kelas atas belajar untuk membimbing adik kelasnya, sementara siswa kelas bawah memiliki ambisi positif untuk tampil sebaik kakak kelas mereka.
  2. Pemerataan Kesempatan: Tidak ada istilah “siswa emas”. Semua siswa, baik yang pendiam maupun yang aktif, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin upacara, pembaca teks UUD 1945, hingga petugas pengibar bendera.
  3. Menghapus Demam Panggung: Dengan tampil di depan ratusan pasang mata sejak kelas 4, mentalitas siswa ditempa. Ini adalah bentuk nyata dari pendidikan public speaking yang tidak didapatkan di dalam kelas teori.

Rotasi Pembina Upacara: Ragam Inspirasi dari Dewan Guru

Tidak hanya siswa, sistem penggiliran ini juga berlaku bagi para pendidik. Setiap minggunya, sosok yang berdiri di podium sebagai Pembina Upacara selalu berganti. Mulai dari Kepala Madrasah hingga guru mata pelajaran, semuanya mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan amanat.

Dampak positif dari sistem ini sangat terasa pada variasi pesan yang disampaikan. Jika minggu ini guru kelas fokus pada kedisiplinan berpakaian, minggu depan guru agama mungkin akan menekankan pada integrasi nilai-nilai Islam dalam belajar, atau guru olahraga yang berbicara tentang pentingnya kesehatan fisik. Variasi ini membuat siswa tetap antusias mendengarkan amanat karena setiap guru memiliki gaya komunikasi dan sudut pandang unik yang memperkaya wawasan siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Sekolah Lainnya

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman